Judul yang aneh bukan ? ya, pembaca mungkin juga merasa aneh dengan judul di atas, sebagaimana saya sendiri juga merasa aneh, ketika sabar tak lagi berpahala. Karena kita semua tahu, bahwa sabar dalam agama manapun adalah sikap yang sangat terpuji.
Sebenarnya saya mendapatkan judul tersebut juga dengan kebetulan. Awalnya, saya mempunyai seorang sahabat, yang sedang mengalami rentetan masalah, datang silih berganti. Tapi saya juga melihatnya sebagai orang yang sabar. Kadang mengeluh juga meski tak lama. Namun lama kelamaan, saya geregetan juga melihat sikapnya, yang pada saat-saat tertentu, kadang melebihi kuota yang telah ditetapkan agama.
Coba pembaca bayangkan, tapi membayangkan apa dong ? kan pembaca belum tahu peristiwa yang dialami oleh sahabat saya itu. Jadi begini ceritanya, tapi sedikit saja ya, karena alasan privasi loh. Sahabat saya itu, sekarang dalam persiapan untuk menyempurnakan separuh dari agamanya, alias mau menikah. Akan tetapi, ternyata ada kompetitor lain yang siap "menjegal" langkahnya. Dimulai dari serangan sms, sampai pengerahan "pasukan" besar-besaran guna "mematikutukan" sang pangeran.
Tentu pembaca penasaran, bukan? Tapi nggak juga tidak apa-apa, alias e ge pe… jadi maksud saya, serangan sms adalah teror maut yang pernah ia tebar, hampir sepanjang hari, tak peduli siang ataupun malam, selama hayat masih dikandung badan, mungkin begitu pikirnya. Nah, kalau "pasukan", pasukan apa dong? Mungkin karena ia merasa sebagai seorang kompetitor kelas wahid, jadi tidak akan tanggung-tanggung dalam melancarkan serangan, yang atraktif, yang inovatif, yang kompetitif, yang efektif, dan semua kata yang berakhiran "tif", he.he..
Dimulai dari keluarganya, adik, kakak, ibu, semua ia kerahkan untuk menundukkan hati sang gadis. Tidak mempan. Maka teman-temannya pun jadi amunisi, dari teman sekantor, sekampus, seprofesi, semuanya. Nihil. Ia siapkan juga peluru-peluru baru, dari teman-teman sang gadis sendiri. Gagal. Sungguh sangat dramatis, tapi itu realistis, karena saya juga paling tidak senang, ada kisah yang terlalu kuat aroma dari bumbu-bumbu dramatisasinya.
Nah, suatu hari, ketika datang serangan-serangan baru, yang sasarannya adalah sahabat saya dan calon istrinya, ternyata ia tangkis pakai jurus-jurus lamanya, yang sudah basi dan expired itu, sabar. Bukan berarti saya menolak, apalagi membenci sikap sabarnya. Akan tetapi, bukankah kita tahu, bahwa mempersilakan lawan untuk menampar lagi pipi kanan kita, setelah pipi kiri sudah ditampar, adalah sikap pengecut, alias cemen abis. Ya, itulah yang saya tidak suka.
Sesungguhnya, menjaga kehormatan adalah wajib, menjaga harta adalah wajib, menjaga jiwa adalah wajib, menjaga diri adalah wajib, dan menjaga akal adalah wajib. Tak ada tawar menawar, karena agamapun melindunginya.
Tapi ada sisi lain, yang menarik, yang menurut saya sering terjadi dalam kehidupan kita. Ternyata sabar, dalam kasus sahabat saya di atas, tidak hanya terjadi pada orang yang sabar atas situasi privasinya. Bahwa sikap sabar, juga buruk pada saat-saat tertentu, bila menjamah pada situasi finansial seseorang. Di mana ia bersabar pada kondisi sulit, tapi ya itu tadi, sabar yang kelebihan kuota. Sehingga, mau tidak mau, masuk dalam deretan para "elit", alias ekonomi sulit.
Nah, di sinilah, para pembaca yang budiman, judul aneh yang saya maksud tentang sabar yang tak lagi berpahala itu. Tatkala seseorang sabar yang kelewat batas, sehingga sabarnya membuat ia lupa tentang potensi sesungguhnya, yang ia miliki. Sanggup tapi tak mau, mampu tapi malas, bisa tapi enggan.
Oleh karena itu, patut kiranya kita, sedikit saja bercermin (banyak juga tidak apa-apa kok, apalagi sering. He..he.) pada…..pada apa ya, pembaca..? ya pada apa saja yang ada di sekitar kita, entah itu pengemis, barangkali. Atau semut, atau rayap, atau bahkan berang-berang…. Itu karena, mereka adalah makhluk yang tidak pernah sabar, sehingga ketidaksabarannya malah berpahala.
DIarsipkan di bawah: Artikel | 1 Komentar »