Inspirasi

Belajar dari Sang Surya

Oleh : Arvan Pradiansyah

Di sebuah kota tinggallah dua orang bijak yang sudah hidup bersama selama 30 tahun. Selama itu mereka belum pernah sekalipun bertengkar. Suatu hari seorang dari mereka berkata, ”Tidakkah kau berpikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?”

Kawannya menyahut, ”Bagus kalau begitu! Mari kita mulai. Apa yang harus kita pertengkarkan?” Orang bijak pertama menjawab, ”Bagaimana kalau sepotong roti ini?”

”Baiklah, marilah kita bertengkar karena roti ini. Tapi, bagaimana kita melakukannya?” tanya orang bijak kedua. Orang bijak pertama lalu berkata, ”Roti ini punyaku. Ini milikku semua.” Orang bijak kedua menjawab, ”Kalau begitu, ambil saja.”

Para pembaca yang budiman, alangkah damainya dunia ini kalau kita semua berperilaku seperti dua orang bijak tersebut. Coba Anda renungkan, bukankah pertengkaran, perselisihan, dan peperangan yang terjadi di dunia ini bersumber dari keinginan kita untuk meminta sesuatu dari orang lain? Kita suka meminta, tapi sayangnya kita tak suka memberi.

Di rumah kita meminta perhatian pasangan kita, meminta anak-anak memahami kita, meminta pembantu melayani kita. Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, dan meminta gaji yang tinggi pada atasan. Di masyarakat, mereka yang mengaku sebagai pemimpin selalu meminta pengertian dan kesabaran masyarakat, meminta masyarakat hidup sederhana dan mengencangkan ikat pinggang.

Bahasa kita sehari-hari adalah ”bahasa” meminta. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi? Ada logika yang sepintas lalu masuk akal. Logika tersebut mengatakan, ”Dengan meminta milik Anda akan bertambah, sebaliknya dengan memberi milik Anda akan berkurang.” Pikiran semacam ini menimbulkan ketamakan dan perasaan takut untuk berbagi.

Padahal hukum alam menyatakan yang sebaliknya. Justru dengan banyak memberi, kita akan banyak pula menerima. Coba perhatikan orang yang disenangi dalam pergaulan. Merekalah orang yang suka memberi. Sebaliknya orang-orang yang dibenci adalah orang yang pelit dan tak pernah memberi.

Keinginan untuk memberi tak ada kaitannya dengan banyaknya harta yang kita miliki. Ada orang yang kaya raya tapi sulit sekali memberi. Mereka selalu mengatakan, ”Kalau banyak memberi, kapan saya bisa kaya seperti ini?”

Mereka tak mau memberi karena takut miskin. Seolah-olah dengan memberi mereka akan terkuras habis. Mereka sesungguhnya orang yang benar-benar miskin. Karena bukankah ketakutan akan kemiskinan merupakan kemiskinan itu sendiri?

Sebaliknya ada orang yang sederhana tetapi senantiasa mau berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang-orang yang kaya. Yang menjadikan kita kaya sebenarnya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang kita berikan kepada orang lain.

Sumber kekayaan yang sejati sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Sayangnya, banyak orang tak sadar. Mereka sibuk mengumpulkan permata dan berlian, lupa bahwa permata yang ”asli” sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri.

Namun, hal itu tak terjadi begitu saja. Ibarat menggali permata yang ada di dalam bumi, Anda juga harus melakukan penggalian ke dalam diri kita. Nah, begitu Anda melakukan perjalanan ke dalam, Anda akan mulai merasakan efeknya.

Mula-mula, beberapa masalah fisik yang berlarut-larut akan terhapuskan, kemudian masalah-masalah emosi yang pelik akan terselesaikan. Teruskan menggali, Anda akan merasakan hidup yang bermanfaat, dan akhirnya akan timbul suatu kesadaran bahwa kita semua adalah satu dan tak bisa dipisah-pisahkan.

Untuk bisa menggali, Anda perlu menemukan kuncinya. Tanpa kunci ini perjalanan Anda akan sia-sia belaka. Anda ingin tahu kuncinya? Jawabnya adalah: dengan memberi kepada orang lain!

Jangan salah, memberi tak selalu harus berkaitan dengan materi dan uang. Kahlil Gibran mengatakan, ”Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.

” Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Anda bisa memberikan perhatian, pengertian, waktu, energi, pemikiran, pujian, dan ucapan terima kasih. Anda bisa memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya. Anda juga bisa sekedar memberikan senyuman. Hal-hal yang sederhana ini dapat berarti banyak bagi orang lain.

Orang yang enggan memberi adalah mereka yang tak pernah belajar dari kehidupan itu sendiri. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi. Lihatlah, betapa Tuhan telah memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli kita baik ataupun jahat. Inilah unconditional love, sebuah cinta tanpa syarat.

Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus, yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya. Sebuah lagu menggambarkan hal ini dengan sangat indah, ”Kasih ibu kepada beta/Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia.”

Biarkan Cahaya Itu Masuk

Oleh : Arvan Pradiansyah

Seorang tua yang kaya raya sedang berbaring di tempat tidur menunggu maut datang menjemput. Di saat-saat terakhir, ia mengumpulkan keempat istrinya. Ia ingin mengajak mereka untuk menemaninya sampai ke alam baqa.

Dipanggillah istrinya satu persatu. Dimulai dari istri keempatnya, yang paling muda sekaligus paling cantik. Istri ini berkata, ”Maafkan aku. Tentu saja aku sangat sedih memikirkan kepergianmu, tapi aku masih memiliki banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku tak dapat menemanimu.” Kecewa dengan jawaban itu, si lelaki memanggil istri ketiganya, namun istrinya ini mengatakan, ”Aku hanya dapat menemanimu sampai engkau menghembuskan nafasmu yang terakhir.”

Istri keduanyapun dipanggil. ”Aku akan menemanimu, tetapi hanya sampai di pemakaman saja,” ujarnya. Hampir putus asa, akhirnya ia memanggil istri pertamanya. Dengan mantap si istri berkata, ”Aku akan menyertaimu kemanapun engkau pergi.”

Cerita inspiratif ini sebenarnya adalah gambaran kehidupan kita sendiri. Istri keempat adalah analogi dari harta yang kita kumpulkan selama kita hidup. Istri ketiga adalah tubuh kasar kita yang amat kita perhatikan dan selalu kita rawat. Istri kedua adalah analogi dari keluarga kita. Istri pertama yang paling setia adalah gambaran tubuh halus kita, jiwa dan spiritualitas kita. Inilah yang akan menyertai kita kemanapun kita pergi.

Ironisnya, selama hidup, kita telah menghabiskan waktu dan energi yang tidak sedikit untuk urusan harta, badan, dan keluarga kita. Padahal cepat atau lambat mereka akan meninggalkan kita. ”Harta” satu-satunya yang paling setia yaitu jiwa kita justru sering kita abaikan.

Kesalahan terbesar yang sering kita lakukan adalah menyangka bahwa kita adalah makhluk fisik. Banyak orang beranggapan bahwa ”Aku adalah tubuhku.” Karena itu, seluruh hidupnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya. Mereka mengumpulkan harta dan memenuhi nafsu badannya seakan-akan mereka akan hidup untuk selama-lamanya.

Perlombaan mengumpulkan harta ini melahirkan keserakahan dan korupsi. Manusia-manusia semacam ini banyak sekali jumlahnya di negeri kita. Celakanya lagi merekalah yang memegang kekuasaan hampir di segala lapisan. Orang-orang ini tak pernah melewatkan kesempatan sekecil apapun. Kekuasaan bagi mereka adalah mesin uang yang amat efektif.

Padahal manusia sama sekali bukan makhluk fisik. Manusia adalah makhluk spiritual. Kita bukanlah tubuh kita, kita adalah jiwa kita. Sejak pertama kali diciptakan, kita adalah makhluk spiritual, dan sampai kapanpun kita tetap makhluk spiritual.

Hanya ketika berada di dunialah jiwa kita membutuhkan badan sebagai rumah kita. Tapi, badan ini lama kelamaan akan rusak dan aus. Pada akhirnya badan tak dapat lagi kita gunakan. Kita menyebutnya meninggal dunia. Namun, ini tidak sama dengan kematian. Kita hanya meninggalkan dunia tetapi kita masih tetap hidup.

Kalau kita menyadari akan kenyataan sederhana ini, kita tak akan menjadi manusia yang rakus dan serakah. Kita akan sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara saja. Memang benar, kita tak dapat hidup tanpa memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik kita seperti sandang, pangan, dan papan. Tapi, kita tahu bahwa di balik wujud kasar kita ada jiwa yang merupakan milik kita selama-lamanya. Karena itu, kita tak ingin merusak jiwa ini untuk memenuhi kebutuhan fisik kita yang sangat sementara itu.

Orang yang korupsi dan serakah sebetulnya memiliki satu tujuan: kebahagiaan. Namun, karena mereka menganggap dirinya hanya makhluk fisik, maka kebahagiaan itu diterjemahkan menjadi: mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Padahal harta yang mereka kumpulkan tak akan pernah membuat mereka puas, tetapi hanya membuat mereka bertambah haus. Mereka tak sadar bahwa sumber kebahagiaan yang abadi terdapat di dalam jiwa mereka sendiri. Mereka tak pernah menyelami kekayaan terbesar yang mereka miliki itu

Keserakahan terhadap dunia telah merusak dan menggerogoti jiwa mereka. Keserakahan ini juga telah menutupi seluruh hati mereka sehingga mereka seakan-akan tak pernah mendapatkan ”cahaya” dari Tuhan. Mereka tak pernah sadar pada sumber kebahagiaan yang tersedia dalam jiwa mereka yang sebenarnya dapat mereka akses setiap saat.

Sebagai penutup, saya ingin mengemukakan cerita seorang bijak yang bertanya pada murid-muridnya, ”Dimana Tuhan ada?” Murid-muridnya yang keheranan itu dengan tangkas menjawab, ”Di mana-mana.” Namun, orang bijak itu mengatakan, ”Tidak. Tuhan hanya ada ketika manusia membiarkanNya masuk.”

Orang bijak ini benar. Orang-orang yang tamak dan serakah telah menutup seluruh ruangan hati mereka dengan harta benda. Tak ada lagi tempat yang dibiarkannya tersisa untuk cahaya Ilahi. Untuk itulah sebetulnya kita perlu berpuasa karena berpuasa adalah sebuah terapi untuk mengurangi ketergantungan kita pada dunia fisik dan membuka pintu pada dunia spiritual. Lapar yang kita rasakan pada hakikatnya adalah upaya memberikan ruangan pada cahaya Ilahi untuk masuk.

It’ s All Small Stuff!’

Oleh: Arvan Pradiansyah

Pada suatu pagi yang cerah. Anda sedang mengemudikan kendaraan sambil menikmati lagu kesayangan Anda. Tiba-tiba, sebuah mobil yang berlari dengan kecepatan tinggi menyalib Anda. Anda terkejut bukan kepalang. Masih untung Anda terhindar dari kecelakaan. Langsung saja Anda membunyikan klakson sekeras-kerasnya sambil mengejar mobil tersebut. Tanpa diduga mobil tadi berhenti. Orangnya pun menghampiri Anda dan memaki Anda dengan kata-kata yang tak senonoh.

Bayangkan kalau Anda menghadapi situasi semacam itu. Apa yang akan terjadi? Apa yang akan Anda lakukan sesampai di kantor? Mungkin Anda akan menceritakan kejadian tadi pada teman-teman Anda. Lalu seharian Anda diliputi perasaan marah. Masih belum puas, sore harinya Anda mendiskusikan masalah itu dengan keluarga di rumah.

Apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah masalah besarkah? Mungkin ya, kalau Anda celaka, tapi kini Anda selamat dan sehat wal afiat. Yang Anda hadapi adalah masalah kecil. Persoalannya, Anda memperlakukannya sebagai masalah besar, yang begitu menyita perhatian dan menguras energi dan waktu produktif Anda.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak sekali hal-hal yang kita risaukan yang setelah kita amati lebih jauh ternyata bukan masalah besar. Di kantor kita bekerja dengan atasan yang otoriter dan mau menang sendiri, mendapatkan perlakuan kurang adil, memperoleh kritikan yang tak pada tempatnya, digunjingkan orang, dimaki-maki pelanggan serta menghadiri berbagai rapat yang tak penting.

Di rumah kita berurusan dengan tagihan listrik dan telepon yang terus naik, harga-harga yang membumbung tinggi, dompet yang hilang, mobil yang tergores, kaki yang terkilir, pasangan yang tak mau mengerti, dan anak-anak yang sering bertengkar. Hidup ini rasanya sumpek sekali.

Tahukah Anda siapa yang telah membuat Anda merasa begitu stres dan tertekan? Masalah-masalah itu? Bukan. Sama sekali bukan. Penyebab stres adalah diri Anda sendiri. Jangan lupa, tak ada sesuatu pun yang dapat menyakiti Anda tanpa ijin Anda sendiri. Anda lah yang membuat sumpek. Persoalannya, Anda menganggap hal-hal tadi sebagai masalah besar. Padahal semua itu hanyalah hal kecil yang tak perlu dirisaukan.

Salah satu cara yang efektif untuk mengetahui apakah sesuatu itu hal yang besar atau kecil adalah dengan menanyakan pada diri Anda sendiri, ”Apakah aku masih mempedulikan peristiwa ini setahun dari sekarang?” Saya yakin kebanyakan kita akan mengatakan ”Tidak!”

Saya pernah mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari atasan. Ia tak mengijinkan saya mengikuti sebuah seminar yang penting. Waktu saya tanyakan alasannya ia malah membeberkan ”daftar dosa” saya. Tentunya menurut versinya sendiri. Intinya, saya tidak diijinkan ikut.

Beberapa hari saya merasa sangat marah karena perlakuan tersebut. Namun setahun kemudian, setelah mengundurkan diri dari perusahaan itu saya sering menertawakan ”kebodohan” saya. Kenapa harus marah, peristiwa tersebut adalah hal kecil dan tak penting.

Mengurusi hal-hal kecil dapat membuat kita kehilangan perspektif terhadap hal-hal besar. Banyak orang yang menjalani kesibukan tanpa henti yang membuat mereka lupa akan misi mereka sebenarnya di dunia ini. Mereka baru sadar tentang hal-hal besar sesaat sebelum meninggal dunia.

Pada detik-detik terakhir nanti apakah Anda akan mengatakan, ”Saya ingin melewatkan waktu lebih banyak lagi di kantor.” Ataukah, ”Saya ingin melewatkan waktu lebih banyak dengan keluarga, menikmati saat-saat indah, dan menyaksikan anak-anak saya tumbuh dari hari ke har.” Saya yakin Anda semua memilih jawaban yang kedua.

Musisi John Lennon pernah berkata, ”Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat rencana lain.” Ketika kita sibuk membuat ”rencana lain,” anak-anak kita akan menjadi dewasa, orang-orang yang kita cintai menjadi tua dan kemudian pergi, tubuh kita kehilangan bentuk dan impian-impian kita berlalu.

Ukuran kesuksesan Anda bukanlah ditentukan pada saat Anda hidup atau mencapai puncak karir. Ukuran kesuksesan baru dapat dilihat pada saat Anda meninggal. Bagaimana Anda memanfaatkan hidup Anda, apakah untuk hal-hal besar yang berkaitan dengan kebahagiaan Anda dan orang banyak, atau kah hanya untuk mengurusi hal-hal kecil yang terlalu remeh untuk sekedar diingat dan dikenang?

Anda akan memperoleh pencerahan kalau dapat melihat sesuatu yang sama dengan cara pandang yang baru. Mulailah melihat dalam kerangka yang lebih luas, Anda akan merasa tenang dan damai, karena tak lagi meributkan hal-hal yang kecil. Bahkan dalam perspektif yang lebih arif dan lebih holistik lagi, semua hal yang ada di dunia ini adalah hal kecil.

Apapun, bahkan milik Anda yang paling berharga dapat hilang begitu saja. Lantas kalau Anda kehilangan semua itu apakah hidup Anda menjadi tidak berarti? Tentu saja tidak! Jadi inilah aturan terpenting dalam hidup: Itu semua hal yang kecil. It’s All Small Stuff!

Kisah Serigala & Utang Luar Negeri

Oleh : Arvan Pradiansyah

Seekor serigala yang sedang berlari mengikuti aroma domba jantan tiba-tiba melambatkan langkahnya dan bergerak penuh kewaspadaan. Tak jauh dari tempatnya berdiri nampak sepuluh orang sedang duduk mengelilingi api unggun. Beberapa meter dari tenda mereka ada ratusan domba dan sapi sedang tertidur.

Serigala itu menempelkan tubuhnya di tanah dan bersembunyi. Ia merasa orang-orang ini tengah merencanakan sesuatu. “Kita harus melenyapkan Yusuf,” kata seorang dari mereka. “Kalian tau, Yusuf lebih dicintai ayah dari pada kita semua.” Yang lain menengahi, “Begini saja. Kita tak perlu membunuhnya. Masukkan saja dia ke dasar sumur supaya dipungut musafir.” “Tapi apa yang harus kita katakan pada ayah?” sambung yang lain. “Bilang saja ia dimakan serigala!”

Mendengar namanya disebut-sebut, serigala sadar dirinya dalam bahaya. Segera ia berlari, namun terlambat, kaki belakangnya terperosok ke dalam jerat yang sangat kuat. Serigala menangis. Udara pecah oleh suara lolongan dan jeritan.

Segalanya terjadi begitu cepat. Kesepuluh orang itu memukuli dan mengikat serigala, lalu memasukkannya ke kerangkeng. Setelah melumuri darah domba pada mulut dan cakarnya, mereka membawa serigala ini pada Ya’qub, sambil berkata, “Ayah, serigala ini sering memakan ternak kita. Ia juga yang menerkam Yusuf!” Dengan hati yang pilu, Ya’qub berkata, “Hai serigala, ini pakaian Yusuf.

Anak-anak membawanya padaku dan berkata kamulah yang menerkamnya.” Serigala memandangi Ya’qub memohon belas kasihan. Ya’qub yang bijaksana berkata, “Aku mengerti apa yang kau rasakan. Bagaimana mungkin kau menerkam Yusuf sementara pakaiannya masih utuh. Aku tau ini semua adalah muslihat anak-anakku sendiri.” Serigala membatin, “Aku adalah serigala asing yang datang dari Mesir untuk mencari adikku. Sedangkan anak-anakmu malah menghilangkan saudaranya sendiri. Jadi siapakah sebenarnya serigala itu? Aku, ataukah anak-anakmu wahai tuanku yang mulia?”

Apa yang dikatakan serigala itu benar. Seperti dikemukakan penulis Titus Maccius Plautus, “Manusia adalah serigala bagi manusia lain” Serigala sering dilukiskan sebagai hewan licik, tamak dan rakus. Padahal sebenarnya tidak demikian. Serigala hanya makan sekali seminggu, kemudian berpuasa 6 hari berikutnya. Serigala hanya makan secukup perutnya, dan tak pernah menimbun harta seperti manusia. Serigala memakan domba dan kambing, tapi tak pernah makan serigala lain. Mereka hidup berkasih sayang dalam komunitas yang penuh keharmonisan.

Kelemahan serigala adalah ketidakmampuan mereka menyembunyikan taring dan cakarnya dengan senyuman seperti yang dilakukan manusia. Dengan berbagai teknik impression management, manusia menyembunyikan watak serigala yang mereka miliki dibalik safari, jas, dasi, serta sarung dan kopiah yang mereka kenakan untuk bersujud di masjid. Fenomena ini mungkin dapat menjelaskan mengapa Indonesia yang mayoritas Muslim terbesar juga merupakan negeri paling korup sedunia.

Indonesia kini tengah menempatkan diri sebagai salah satu negri termiskin di dunia. Bayangkan 1 orang Indonesia kini menanggung beban utang lebih dari Rp. 6 juta. Tapi kita masih menerima komitmen CGI untuk utang baru senilai US$ 3,14 Miliar! Padahal pengalaman membuktikan 30% utang kita mengalir ke kantong para “serigala” berbaju safari. Tak heran, Menteri Kwik Kian Gie merasa tak yakin bahwa utang kali ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Persoalan korupsi sebenarnya berkaitan dengan 2 hal. Pertama, dengan sistem hukum di Indonesia. Cina yang bersama Vietnam dan Indonesia dikenal sebagai surganya koruptor, menerapkan hukuman mati. Ini berbeda dengan kita yang menyelesaikan korupsi dengan lobby politik. Pemerintahan kita juga menciptakan banyak dana non bujeter yang tak jelas akuntabilitasnya seperti dana Bulog. Di Kalimantan Timur, gubernurnya memiliki dana non bujeter 1,3 M per tahun. Tapi yang lebih menggusarkan si gubernur adalah dana yang dimiliki Syaukani. Bayangkan, Bupati Kutai ini memiliki dana taktis Rp. 100 Milyar pertahun!

Kedua – dan ini jauh lebih mendasar – adalah persoalan manusia. Banyak orang yang berwatak serigala, yang memiliki mentalitas kelangkaan (scarcity mentality). Mereka selalu merasa kekurangan. Merekalah orang-orang kaya yang takut miskin. Ini yang membuat rumus korupsi di Indonesia berbeda dengan negara lain. Di Malaysia, rumus korupsi adalah : “Bagikan dulu untuk rakyat, nanti sisanya baru kita korupsi”. Sementara rumus kita adalah, “Bagi-bagi dulu diantara pejabat, sisanya baru buat rakyat.” Tak heran banyak pejabat yang kekayaannya melangit, sementara kemiskinan rakyat amat menyedihkan.

Membenahi sistem hukum relatif lebih mudah. Yang diperlukan cuma kemauan politik. Membenahi SDM jauh lebih sulit, tapi akan menghasilkan perubahan yang lebih mendasar. Akar korupsi terletak pada PARADIGMA orang tentang kekuasaan. Selama kekuasaan masih dilihat sebagai rezeki dan bukan sebagai amanah, selama itu pula korupsi tak mungkin dapat diberantas.

Melampaui Diri Sendiri

Oleh: Arvan Pradiansyah

Ini sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang bijak. Suatu malam, seorang laki-laki datang ke rumahnya dan berkata, ”Ada sebuah keluarga dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan.” Mendengar hal itu bergegaslah orang bijak itu pergi membawa makanan untuk mereka.

Ketika tiba di sana ia melihat wajah anak-anak itu begitu menderita karena kelaparan. Tak ada kesedihan ataupun kepedihan di wajah mereka, hanya derita yang dalam karena menahan lapar.

Orang bijak itu memberikan nasi yang dibawanya pada sang ibu. Ibu itu lantas membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu ke luar membawa setengahnya. Ketika ia kembali, orang bijak itu bertanya, ”Kau pergi kemana?” Ibu itu menjawab, ”Ke tetangga-tetanggaku. Mereka juga lapar.”

Orang bijak itu tercengang. Ia tidak heran kalau si ibu membagi nasi itu dengan tetangga-tetangganya, sebab ia tahu orang miskin biasanya pemurah. Yang ia herankan adalah karena si ibu tahu bahwa mereka lapar. Biasanya kalau kita sedang menderita, kita begitu terfokus pada diri sendiri, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan orang lain.

Si ibu dalam cerita di atas adalah contoh orang yang telah dapat melampaui dirinya sendiri. Ia dapat melepaskan keterikatannya pada kebutuhan fisik dan secara bersamaan memenuhi kebutuhan spiritualnya yaitu untuk berbagi dengan orang lain. Kualitas semacam ini tentu tak dapat diraih dalam waktu singkat. Ini memerlukan proses pergulatan batin yang cukup panjang.

Kehidupan manusia memang senantiasa menjadi tempat pergulatan dua kepentingan utama: fisik dan spiritual. Kepentingan fisik adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk bisa hidup di masa sekarang, seperti sandang, pangan dan papan. Ini kebutuhan jangka pendek kita. Sementara, kepentingan spiritual adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Ini adalah kebutuhan jangka pendek sekaligus jangka panjang.

Pemenuhan kedua macam kebutuhan ini akan menghasilkan kualitas hidup yang tinggi. Sayang, banyak orang yang tak menyadari hal ini. Mereka menghabiskan hidup mereka hanya untuk mengumpulkan harta benda. Untuk itu mereka juga tak segan-segan menggunakan cara yang buruk: menciptakan kebijakan yang menguntungkan diri sendiri, menguras uang rakyat, mencuri uang perusahaan, maupun menciptakan konspirasi yang merugikan orang banyak.

Kalau kita renungkan secara mendalam, semua kejahatan yang ada di dunia ini berasal dari satu kata: keserakahan. Dan, akar keserakahan adalah pada cara kita memandang hidup ini. Selama kita melihat diri kita semata-mata makhluk fisik belaka, selama itu pula kita tak dapat membendung keinginan kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Betapa banyaknya dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi memiliki harta yang luar biasa banyaknya.

Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk merasionalkan hal itu. Pertama, semua orang yang mendapat kesempatan pasti akan melakukannya. Kedua, penghasilan yang saya dapatkan terlalu kecil dan tidak seimbang dengan pengorbanan yang saya berikan. Ketiga, toh kekayaan yang saya dapatkan tidak saya nikmati sendiri tetapi saya gunakan untuk membantu anak yatim, membiayai orang tua dan saudara yang sedang sakit, membangun sekolah, dan sebagainya. Dengan berbagai alasan tersebut kita mendapatkan ”ketenangan sementara” karena seolah-olah perbuatan yang kita lakukan telah berubah menjadi legal, rasional atau paling tidak dapat dimaklumi.

Namun, ketenangan semacam ini tidaklah langgeng. Pasti ada sesuatu dalam diri kita yang kembali mengusik kita, membuat kita resah dan gelisah. Perhatikanlah orang-orang yang hidup dengan cara ini. Mereka sangat rentan terhadap perubahan yang sekecil apapun. Mereka sangat jauh dari ketentraman yang sejati. Betapapun banyaknya harta yang mereka kumpulkan tak akan pernah melahirkan perasaan cukup dan puas. Sebuah pepatah mengatakan, ”The world is enough for everybody, but not enough for one greedy.” Apa yang disediakan oleh dunia ini sebetulnya cukup untuk semua orang, tetapi tidak akan cukup untuk seorang yang rakus.

Sebuah perubahan dramatis akan terjadi begitu kita sadar bahwa kita bukanlah makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Kita menjadi makhluk spiritual untuk selama-lamanya. Sebelum muncul ke dunia, kita adalah makhluk spiritual, ketika hidup sekarang kita juga makhluk spiritual, dan ketika kita meninggal kita tetap menjadi makhluk spiritual. Kita hanya menjadi makhluk fisik di dunia ini saja.

Salah satu cara paling efektif untuk menyadari hal itu adalah dengan berpuasa. Dengan puasa kita akan sadar bahwa kebutuhan (ini berbeda dengan keinginan) kita sebetulnya sangatlah sedikit. Berpuasa juga akan menyadarkan kita bahwa dengan mengurangi kenikmatan fisik kita akan mendapatkan kenikmatan spiritual yang luar biasa. Dengan berpuasa kita keluar melampaui ”diri rendah” kita menuju Diri kita yang lebih tinggi. Dengan puasa kita lepaskan keterikatan kita pada gravitasi bumi. Kita bergerak melesat mengikuti gravitasi langit.

Orang Beragama atau Orang Baik?

Oleh: Arvan Pradiansyah

Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya.

Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah. ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.

Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.” Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

Puasa Tingkat Ketiga

Oleh: Arvan Pradiansyah

Cobalah Anda amati perasaan, perilaku, dan kebiasaan Anda sehari-hari. Tahukah Anda apa yang mengatur semua itu? Kalau Anda merenungkannya dengan cermat, Anda akan menemukan bahwa keseluruhan program mengenai diri kita berada di dalam kepala Anda. Inilah yang disebut pikiran.

Pikiranlah yang mengatur perasaan, tindakan, kebiasaan, dan akhirnya nasib kita. Pikiranlah yang menentukan apakah kita senang atau susah, sedih atau bahagia, serta sehat atau sakit. Semua yang kita rasakan sumbernya adalah pikiran. Karena itu untuk melakukan perubahan menyeluruh terhadap kehidupan kita, satu-satunya hal yang harus diubah adalah pikiran. Namun seperti halnya komputer, pikiran kita juga sering terserang virus-virus berbahaya yang merusak.

Salah satu sarana untuk membersihkan pikiran kita dari virus-virus tersebut adalah berpuasa. Karena itu makna puasa yang sesungguhnya adalah mengendalikan pikiran Anda. Inilah yang saya sebut ”Puasa Tingkat Ketiga.”

Adapun puasa tingkat pertama adalah puasa secara fisik. Ini hanya menjaga apa yang masuk ke dalam mulut Anda. Puasa tingkat kedua adalah puasa secara sosial/emosional. Ini berkaitan dengan perilaku kita kepada orang lain, terutama menjaga apa yang keluar dari mulut (ucapan kita).

Apa yang masuk ke dalam mulut amat perlu kita jaga, karena inilah sumber penyakit. Kita menjaga agar tak makan makanan yang beracun, yang tak higienis, maupun yang berkolesterol tinggi. Namun sayangnya, kita sering mengabaikan ”makanan-makanan” yang masuk ke dalam kepala kita.

”Makanan-makanan” itu sebenarnya tak kalah beracunnya, sangat berbahaya dan mengandung virus yang mematikan. Hakikat puasa tingkat ketiga adalah menjaga pikiran dari virus-virus yang berbahaya. Ini adalah puasa secara mental, yang merupakan prasyarat puasa tingkat empat, yang intinya adalah merasakan kedekatan Tuhan. Inilah tingkatan puasa yang tertinggi yaitu secara spiritual.

Untuk mengubah diri kita, paling tidak kita harus mencapai puasa tingkat ketiga ini. Caranya adalah dengan memilih secara sadar ”makanan-makanan” apa yang boleh dikonsumsi pikiran kita. Kita harus sangat berhati-hati karena banyak sekali hal di sekitar kita yang dapat menjadi virus yang berbahaya.

Coba perhatikan, berapa lama Anda menonton televisi setiap hari? Jangan lupa, banyak acara-acara TV sekarang ini berisikan virus-virus yang sangat berbahaya: telenovela, sinetron, film dan acara gosip para selebritis kita yang ada di hampir seluruh stasiun TV. Temanya berkisar pada hal-hal yang itu-itu saja: perkelahian antarartis, perceraian, perselingkuhan, dan seterusnya.

Bosan dengan acara gosip, Anda melihat berita dan menyaksikan perkelahian para politisi kita. Selain dari media massa, pikiran Anda juga bisa tercemar melalui lingkungan pergaulan, tindakan orang yang menyakiti kita, maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Racun pikiran kita inilah yang akan menentukan perasaan kita. Apakah Anda merasa bahagia, senang, dan susah, sebenarnya hanyalah merupakan konsekuensi dari apa yang masuk ke pikiran Anda.

Esensi berpuasa adalah menciptakan ”gembok” untuk mengunci pikiran. Berpuasa berarti kitalah yang memegang kunci gembok tersebut, dan tak menyerahkannya kepada orang lain. Ini sebenarnya merupakan hakikat kepemimpinan. Seperti halnya komputer, otak kita juga mempunyai rumus GIGO (Garbage In Garbage Out). Maksudnya, kalau pikiran kita mengkonsumsi sampah, maka yang akan dihasilkan juga sampah. Ada pepatah yang mengatakan, ”Pikiran yang picik membicarakan orang. Pikiran biasa membicarakan kejadian. Tetapi pikiran yang besar membicarakan gagasan.” Inilah pikiran-pikiran yang bersih dan belum teracuni virus dan sampah.

Lantas bagaimana dengan hal-hal yang tak dapat kita kontrol, misalnya perilaku dan ucapan orang lain yang menyakiti hati Anda? Kalau itu terjadi pada Anda, berapa jam waktu yang Anda gunakan untuk memikirkan perilaku orang tersebut? Padahal, semakin Anda terserap ke dalam detil tentang apa-apa yang membuat Anda marah, semakin tak enak pikiran Anda. Inilah efek bola salju pikiran.

Jangan lupa, walaupun kita tak dapat mengontrol perilaku orang lain, kita senantiasa dapat mengontrol pikiran kita. Saat ini saya sedang mempraktekkan tiga kalimat penting untuk selalu menyehatkan pikiran kita.

Pertama, Subhanallah (Maha Suci Allah). Ini berarti hanya Tuhanlah yang Maha Sempurna. Memahami kalimat ini akan membuat kita mudah memaafkan kelalaian orang lain dan diri sendiri.

Kedua, Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah). Memahami kalimat ini akan membuat kita senantiasa bersyukur menghadapi situasi apapun. Kesuksesan tidaklah membuat kita takabur, sebaliknya kegagalan tidaklah membuat kita putus asa.

Ketiga, Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Memahami kalimat ini secara mendalam akan menyadarkan kita bahwa semua hal yang kita lakukan, bahkan kita pertengkarkan sehari-hari, adalah masalah kecil. Kitalah yang sering merusak pikiran kita dengan membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil.

Tinggalkan Balasan